Redenominasi Rupiah

Meskipun sejak SMP kita sudah diajari mengenai nilai nominal dan nilai intrinsik uang, namun tidak banyak orang yang menyadari bahwa sebenarnya uang itu adalah sebuah bentuk hasil manipulasi transaksi ekonomi yang disepakati secara bersama, secara umum. Dengan kata lain, UANG adalah KEPERCAYAAN yang dilandasi oleh hukum suatu negara agar semua masyarakat percaya bahwa UANG yang mereka kantongi bernilai sesuai dengan yang tertera pada fisik uang tersebut. Pemerintah harus bisa meyakinkan seorang warga negara, bahwa pecahan 100.000 yang dihasilkannya dari penjualan sebuah jam tangan bisa digunakan untuk membeli 50 kg beras dengan pecahan 100.000 yang dihasilkannya tadi.



Sumber : http://asmadie.blogdetik.com/

Rencana redenominasi yang diusulkan oleh Bank Indonesia adalah dengan pengurangan 3 digit pada pecahan rupiah. Misalnya, 100.000 rupiah akan menjadi 100 rupiah, 1000 akan menjadi 1 rupiah. Dalam hal ini, pemerintah wajib untuk memberitahu dan meyakinkan seluruh warga negaranya bahwa akan dilakukan redenominasi rupiah dalam bentuk pengurangan 3 digit mata uang rupiah. Agar tidak terjadi kekacauan sistem transaksi dalam perekonomian Indonesia.

Jadi seperti contoh di atas tadi, pemerintah harus bisa meyakinkan seorang warga negara, bahwa pecahan 100 rupiah yang dihasilkannya dari penjualan sebuah jam tangan bisa digunakan untuk membeli 50 kg beras dengan pecahan 100 rupiah yang dihasilkannya tadi. Jadi tidak ada penurunan daya beli dan kekayaan riil masyarakat, hanya penurunan nilai nominalnya saja, dan itu tidak berpengaruh pada daya beli masyarakat.
 
Resikonya dimana? Yakni jika ada seorang warga negara tidak ingin menjual jam tangannya dengan harga 100 rupiah karena tidak yakin bahwa uang 100 rupiah itu bisa digunakan untuk membeli 50 kg beras. Jadi pemerintah harus mencetak uang baru 100 rupiah yang bisa dianggap senilai dengan uang 100.000 rupiah yang lama. Pemerintah juga harus mensosialisasikan hal ini ke seluruh pelosok negeri, bahkan dunia karena berkaitan dengan pasar uang.

Sumber : http://ibtimes.com/
Ini memang kedengaran aneh, untuk apa melakukan redenominasi yang berisiko itu. Tetapi di pasar uang pecahan kita memang dinilai terlalu besar. Pecahan yang terlalu besar itu berdampak pada enggannya warga negara asing memegang rupiah yang dinilai terlalu besar dan berfluktuasi itu, bukan hanya warga negara asing, tetapi warga negara indonesia pun masih enggan untuk memegang rupiah untuk disimpan baik dalam bentuk deposito maupun dalam bentuk simpanan yang lebih likuid.

Jadi untuk apa redenominasi dilakukan, yakni untuk memperbaiki image rupiah di mata dunia. Lebih tepatnya di pasar uang.

Bagi anda yang merasa seorang milyarder, bersiaplah turun kasta menjadi seorang jutawan. Hehe...

No comments:

Post a Comment